ABSTRACT: Every
human in this world would ever have a problem. As we get older, the
problems facing increasingly numerous and complex. To face and solve the
problem needs courage and decisiveness in taking a decision. It is
closely related to one’s personality and character. Character will
affect a person’s psychological motivation in determining the policies
and goals. Have often heard that the sport can build character. Through
sport people find joy and fulfillment as well as having the maturity of
the personality through experiences in sports. Through sport people find
excitement and fulfillment as well as having the maturity of the
personality through experiences in sports. Sports games provide a space
to socialize with others because sport is played by team. Football as
one of the most popular game in the world has some character value
contained therein. Through football game, the values of characters that
are quite valuable can be used in carrying out the role in the
association in the community. By conducting the football game would
nurture social attitudes in a positive among others. Those are
unyielding spirit, the greatness of the soul to accept victory and
defeat, the responsibility to work, struggle and sacrifice, tolerance,
cooperation in achieving the goals and spirit to always work hard.
Keywords: Character, Sport, Football
PENDAHULUAN
Manusia tidak bisa hidup sendiri, hal ini sesuai dengan kodratnya
bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Manusia hidup dan berada pada
sebuah lingkungan masyarakat. Kedudukan manusia mempunyai arti di dalam
lingkungannya apabila di dalam berhubungan dengan manusia lainnya
terjalin komunikasi yang baik, saling bantu membantu, hormat menghormati
dan bekerja sama. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia di dunia
ini pasti pernah menghadapi masalah. Seiring dengan bertambahnya usia,
maka masalah yang dihadapi semakin bertambah banyak dan kompleks. Untuk
menghadapi dan memecahkan permasalahan diperlukan keberanian dan
ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini berkaitan erat
dengan kepribadian dan karakter seseorang. Karakter akan mempengaruhi
psikologis seseorang dalam menentukan kebijakan dan memotivasi daya
cita.
Selama ini sering terdengar bahwa olahraga dapat membangun karakter
seseorang. Olahraga dan aktivitas fisik adalah salah satu cara bagi
seseorang untuk meningkatkan kebugaran serta mengoptimalisasikan fungsi
organ-organ tubuh. Namun demikian, selain untuk tujuan di atas olahraga
serta aktivitas fisik dapat pula dijadikan sarana bagi seseorang maupun
sekelompok orang untuk membangun karakter masing-masing. Seperti
diketahui bahwa dengan berolahraga, karakter individu dapat dengan mudah
diketahui serta dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang lebih
baik.
Partisipasi dalam olahraga merupakan bagian gaya hidup sehat yang
perlu dikembangkan. Partisipan olahraga mulai dari usia muda sampai tua,
dari tingkat permainan untuk tujuan rekreasi sampai tingkat
profesional. Alasan keikutsertaan seseorang dalam olahraga sangat
beragam mulai dari alasan kesehatan, kebugaran, maupun dengan alasan
lain seperti membentuk karakter positif dan sosialisasi. Banyak orang
menemukan olahraga sebagai sumber kegembiraan dan kepuasan diri. Tidak
diragukan lagi bahwa banyak anak muda mengalami kematangan kepribadian
melalui pengalaman dalam olahraga. Namun demikian, efek pasti olahraga
pada pembentukan karakter positif sangat ditentukan kondisi-kondisi yang
dialami pada saat berolahraga.
Masalah utama olahraga saat ini pada semua tingkatan adalah
meningkatnya perilaku tidak sportif dan kecurangan serta karakter yang
negatif. Skandal kecurangan, obat-obatan, kekerasan, saling tidak
menghormati dan perilaku-perilaku lain yang tidak sportif. Nilai-nilai
positif olahraga, seperti sportivitas, kerjasama, disiplin,
kepemimpinan, kejujuran, tanggungjawab dan saling menghormati seharusnya
mampu membawa pelaku olahraga kearah pembentukan karakter positif dalam
olahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang dimainkan secara
tim. Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari di seluruh
penjuru dunia. Dari waktu ke waktu permainan sepakbola baik yang
bersifat rekreatif. edukatif maupun prestatif telah banyak
diselenggarakan di berbagai tempat dan kesempatan dari tingkat anak-anak
sampai dewasa dalam bentuk amatir maupun profesional. Melalui permainan
sepakbola seseorang akan memperoleh kesempatan dan keuntungan dalam
mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat. Permainan
sepakbola tidak hanya memberikan manfaat untuk fisik dan mental saja,
tetapi juga dapat memberikan manfaat secara sosiologis bagi pelakunya.
Permainan sepakbola dapat menjadi wahana dalam pengembangan berbagai
aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya adalah pengembangan
nilai-nilai karakter, fair play, dan sportivitas.
PEMBAHASAN
Karakter
Karakter dan sportivitas itu sulit untuk didefinisikan secara pasti,
sehingga terdapat beberapa pendapat dan definisi. Seseorang yang
berkarakter memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui dan membedakan mana
yang benar dan mana yang salah, jujur, dapat dipercaya, adil, hormat,
dan bertanggung jawab, mengakui dan belajar dari kesalahan, dan
berkomitmen untuk hidup menurut prinsip-prinsip tersebut (Dimyati,
2010). Terkait dengan hal tersebut di atas, penulis dapat merangkum
definisi tersebut menjadi sebuah pengertian sederhana mengenai karakter,
yaitu sebuah cara untuk bersikap secara terhormat kepada seluruh
komponen pertandingan. Dalam hal ini seluruh komponen pertandingan
meliputi pelatih, lawan, wasit, penonton, dan lain sebagainya terkait
dengan pertandingan tersebut.
Menurut Shields dan Bredemeier dalam Robert S. Weinberg., Daniel
Gould (2007) menyatakan bahwa meskipun karakter dan sportivitas sulit
untuk diartikan, namun sportivitas termasuk dalam wilayah umum moralitas
dalam konteks olahraga. Artinya, sportivitas dilakukan dengan keyakinan
masing-masing, penilaian, dan tindakan yang menyangkut apa yang benar
dan etis dan apa yang salah dan tidak etis dalam olahraga. Secara
khusus, Shields dan Bredemeier menyatakan aspek moralitas dalam olahraga
terdiri dari tiga konsep terkait yaitu, fair play, sportivitas,
dan karakter. Oleh karena itu, karakter dalam olahraga terdiri dari
empat kebajikan yang saling terkait yaitu kasih sayang, keadilan,
sportivitas, dan integritas.
Karakter itu melekat kuat dan sulit diubah Abdullah Munir (2010).
Menurut pendapat penulis karakter senada dengan ciri kepribadian
seseorang, sikap-sikap yang ditunjukkan pada saat bertanding di
lapangan, maka itulah karakter asli seseorang tersebut. Pada dasarnya
sikap yang dimunculkan oleh seorang atlet pada kehidupan yang sebenarnya
sudah melekat erat dalam dirinya, sehingga akan sulit bagi pelatih
untuk melunturkan sikap tersebut pada saat berada di lapangan. Oleh
karena itu, pelatih harus menegaskan kembali pembagian peran kepada
atletnya, bahwasanya tugas-tugas yang diembankan sangatlah berat antara
satu dan lainnya. Sehingga para atlet akan menyadari hal tersebut
sebagai sebuah kerjasama tim yang solid, yang harus melakukan upaya
kolaborasi demi tujuan bersama serta harus mengkesampingkan ego-ego
pribadi.
Fair Play
Fair play berarti semua peserta memiliki kesempatan yang adil
untuk mengejar kemenangan dalam olahraga kompetitif, memiliki kemampuan
meraih kemenangan melalui sikap yang elegan dan sportif (Armando, 2010).
Fair play mensyaratkan bahwa semua kontestan memahami dan
mematuhi tidak hanya kepada aturan formal dari permainan tetapi juga
aturan main yang tidak tertulis (Shields&Bredemeier, 1995) dalam
Robert S. Weinberg., Daniel Gould (2007). Sedangkan menurut Amansyah,
(2010) fair play merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat ksatria pada olahraga. Nilai fair play melandasi pembentukan sikap, dan selanjutnya sikap menjadi landasan perilaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fair play adalah
pemberian kesempatan yang sama untuk menang kepada kedua tim yang
bertanding. Seluruhnya harus menjunjung tinggi peraturan yang berlaku
dan tetap menjaga persahabatan di tengah-tengah besarnya semangat
persaingan, oleh karena itu dalam pandangan masyarakat hal tersebut akan
memiliki nilai yang tinggi.
Sebagai contoh dalam olahraga sepakbola, setiap pemain pasti ingin
menunjukkan kemampuan individualnya saat memainkan bola. Guna menguasai
bola, kerapkali harus terjadi benturan fisik saat saling berebut bola di
lapangan. Oleh karena itu, bagian terpenting dalam pembinaan pemain
muda sepakbola adalah menciptakan karakter yang baik, dimana seorang
pemain sepakbola bisa mengendalikan diri dalam keadaan apapun, dan
senantiasa bersikap disiplin. Inilah yang menjadi dasar dari perilaku
olahragawan atau fair play.
FIFA sebagai organisasi sepakbola dunia, sejak Piala Dunia 1990 sangat gencar mempropagandakan fairplay, dan secara resmi logo fairplay yang dikenal dengan slogan “My Game is Fair Play” diumumkan
pada tahun 1993. Sejak saat itu, tradisi pemberian penghargaan kepada
insan sepakbola yang dinilai mampu memberikan teladan yang baik bagi
masyarakat sepakbola dunia kian gencar diberikan. FIFA kemudian
menciptakan “Golden Rule” yang diharapkan bisa menjadi pedoman
bagi seluruh insane sepakbola dunia. Armando Pribadi (2010), secara
sederhana dan ringkas mengartikan “Golden Rule” FIFA sebagai berikut:
- Jangan bermain membahayakan pemain lawan.
- Hormati aturan main dan jalankan dengan baik semua instruksi official.
- Hormati lawan seperti selayaknya kolega kita di sepakbola.
- Tetap mampu memperlihatkan sikap menjunjung tinggi disiplin, walaupun dalam situasi yang sulit atau tidak mengenakkan.
- Berikan dukungan terhadap siapapun yang berupaya mengenyahkan tindakan curang dalam pertandingan.
- Tunjukkan perhatian besar terhadap pemain yang cedera dengan segera menghentikan pertandingan dalam situasi apapun.
- Jangan pernah punya niat untuk balas dendam terhadap kesalahan yang dilakukan pemain lain.
- Main sesuai dengan perintah tiupan peluit wasit.
- Rendah hati saat merayakan kemenangan, serta berjiwa besar dalam menerima kekalahan.
- Memberikan penghargaan terhadap individu atau lembaga yang secara luar biasa telah menjunjung tinggi sikap-sikap fair play.
Sportivitas
Sportivitas adalah komponen kedua dari moralitas dalam olahraga.
Shields dan Bredemeier dalam Robert S. Weinberg., Daniel Gould (2007)
berpendapat bahwa sportivitas melibatkan intens berjuang untuk berhasil,
komitmen terhadap semangat bermain sehingga standar etika akan lebih
diutamakan daripada keuntungan strategis ketika konflik. Sebagai contoh
pada pertandingan Liga Utama ke Sembilan Iran tanggal 28 Januari 2010
antara klub Moghavemat Sepasi melawan Steel Azin. Tindakan sportif dan fair play
yang ditunjukkkan Amin Mutavassel Zadeh, striker klub Moghavemat
Sepasi, di saat tinggal menjebloskan bola ke dalam gawang ia malah
menendangnya jauh-jauh keluar lapangan, karena kiper Steel Azin
tergeletak tak berdaya setelah sebelumnya berbenturan dengan peman
Moghavemat Sepasi yang lain. Tindakan tersebut dilakukan agar tim medis
bisa memeriksa kiper yang cedera tersebut. Pertandingan tersebut
berakhir dengan kemenangan Steel Azin 2-1 atas Moghavemat Sepasi, jika
Amin Mutavassel Zadeh menjebloskan bola ke gawang, golnya tetap dinilai
sah, dan hasil akhirnya tentu berbeda.
Berdasarkan contoh di atas dapat ditunjukkan bahwa atlet menentukan
sportivitas sebagai kepedulian dan rasa hormat terhadap aturan main,
wasit, lawan, dan tidak melakukan upaya yang curang untuk memenangkan
sebuah pertandingan.
Sepakbola
Berdasarkan dokumen sejarah diketahui bahwa permainan dengan
menggunakan bola telah ditemukan di Cina pada 2500 tahun sebelum masehi,
yang dimainkan oleh tentara Dinasti Han. Beberapa ratus tahun kemudian
ditemukan juga permainan sepakbola di Kyoto, Jepang. Berdasarkan hal
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sepakbola sudah dimainkan
manusia sekitar 3000 tahun yang lalu, akan tetapi masih menggunakan
peraturan sederhana. Kemudian barulah peraturan sepakbola modern pertama
kali dibuat di Inggris pada akhir abad ke-19.
Sepakbola adalah permainan yang selalu menarik bagi siapa saja tidak
mempedulikan unsur gender. Setiap manusia di manapun pasti banyak yang
memainkan permainan ini. Seperti halnya anak-anak sekolah dari tingkat
dasar sampai perguruan tinggi tidak lepas dari sepakbola. Terkadang
untuk acara-acara tertentu dari tingkat RT bahkan sampai tingkat dunia
permainan ini marak dilombakan. Berbagai kejuaraan telah silih berganti
mewarnai perjalanan suatu daerah, bahkan bangsa, serta negara.
Berbicara mengenai sepakbola tidaklah lepas dengan isu-isu terkait
dunia persepakbolaan. Dalam permainan sepakbola semuanya bisa terjadi,
unsur-unsur karakter seseorang, semangat fair play, serta
sportivitas para pemain akan terlihat dengan mudah. Upaya untuk
menanamkan sikap-sikap seperti tersebut di atas adalah tanggung jawab
bersama, mulai dari pelatih sampai dengan para atlet harus menyadari dan
senantiasa menerapkan ketiga konsep di atas baik selama masa latihan
maupun pada saat bertanding.
Kualitas bermain yang bagus, kemampuan yang memadai, bahkan postur
tubuh yang atletis belumlah cukup untuk menjadi pesepakbola yang unggul.
Bahwasanya kesemuanya yang ada di atas adalah kurang lengkap tanpa
adanya nilai-nilai yang mendasari pesepakbola sewaktu berlaga di
lapangan. Nilai-nilai dasar yang akan menjanjikan keberrhasilan seorang
pesepakbola diantaranya adalah karakter, sikap fair play, serta
sportivitas yang ditunjukkan saat bermain. Dengan selalu menerapkan
ketiga sikap tersebut di atas, seorang pesepakbola akan selalu diingat
dan mempunyai ruang di hati masyarakat karena prestasinya yang gemilang.
Pengembangan Karakter, Fair Play dan Sportivitas melalui Sepakbola
Sepakbola sebagai permainan yang dimainkan secara tim harus
senantiasa menyatukan taktik dan teknik serta kerja sama tim demi
mencapai tujuan bersama. Di samping itu, dalam sepakbola terkandung pula
nilai tanggung jawab masing-masing pemain dalam menjalankan peran
masing-masing, sehingga harus menyadari posisi dan tugas dan dapat
mengesampingkan ego pribadi. Meskipun dalam keadaan yang tidak
semestinya seperti saat terjadi peperangan, bencana alam, krisis, dan
lain sebagainya sepakbola datang menjadi penghibur di tengah-tengah
masyarakat.
Kendati sepakbola dapat menyatukan berbagai perbedaan yang ada di
tengah-tengah kehidupan manusia baik kasta, suku, bangsa dan bahasa,
namun sepakbola tidak selamanya membuahkan hasil yang manis. Hal ini
dikarenakan sepakbola adalah permainan yang keras dan kadang kejam
karena perjuangan yang telah dilakukan tidak selalu berakhir dengan
kemenangan. Sering perjuangan mati-matian di lapangan hijau itu hanya
menghantarkan para pemain dan penonton yang terlibat dengan mereka
kepada kegagalan yang pahit dan menyedihkan. Sehingga dalam sepakbola
dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menerima kegagalan, tekad dan keberanian
untuk bangkit meraih kemenangan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sepakbola terdapat nilai-nilai karakter, fair play,
serta sportivitas seperti tanggung jawab akan tugas masing-masing,
semangat pantang menyerah, saling kerja sama, serta kebesaran jiwa untuk
menerima kegagalan di mana nilai-nilai tersebut adalah nilai yang
dibutuhkan untuk mencapai hidup selaras, serasi, dan seimbang di
tengah-tengah masyarakat.
KESIMPULAN
Upaya untuk menanamkan karakter, fair play dan sportivitas
dibutuhkan proses yang sangat panjang, sehingga kesadaran dari dalam
diri atlet harus pula menjadi acuan yang kuat apabila ingin menjadi
seorang atlet yang berhasil. Melalui olahraga orang menemukan
kegembiraan dan kepuasan diri serta mengalami kematangan kepribadian
melalui pengalaman dalam olahraga. Olahraga permainan seperti sepakbola
menyediakan ruang untuk bersosialisasi dengan orang lain karena olahraga
tersebut dimainkan secara tim. Sepakbola sebagai salah satu permainan
yang paling digemari di dunia juga mempunyai beberapa nilai karakter
yang terkandung di dalamnya. Melalui permainan sepakbola, diperoleh
nilai-nilai karakter sebagai bekal yang cukup berharga yang dapat
digunakan dalam menjalankan peran di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai upaya menuju keberhasilan menanamkan nilai-nilai karakter, fair play,
dan sportivitas, seorang pelatih maupun praktisi olahraga harus
memahami bagaimana cara yang tepat untuk melatihkan hal tersebut kepada
anak latihnya. Apabila ketiga konsep di atas telah tertanam dalam diri
seseorang, maka dalam bertanding maupun kelak hidup di tengah-tengah
masyarakat persoalan-persoalan yang ada akan dengan mudah diatasi dan
dapat menjalani hidup dengan harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
Amansyah. (2010). Olahraga dan Etika Fair Play. Diakses pada tanggal 26 Februari 2012. http://syahaman.blogspot.com/2010/06/olahraga-dan-etika-fair-play.html
Anung Handoko. (2008). Sepak Bola Tanpa Batas. Yogyakarta : Kanisius.
Armando Pribadi. (Desember 2010). Fair Play. Makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional Sport Enterpreuneur, di FIK UNY.
Barnawi., M.Arifin. (2012). Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Dimyati. (2010). Peran Guru sebagai Model Dalam Pembelajaran Karakter dan Kebajikan Moral Melalui Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan, 85-98.
Munir, Abdullah. (2010). Pendidikan Karakter: Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah. Yogyakarta: Pedagogia
Robert S. Weinberg., Daniel Gould. (2007). Foundations of sport and exercise psychology. Human Kinetics Publisher. Four Edition.
Belum ada tanggapan untuk "PENGEMBANGAN KARAKTER, FAIR PLAY DAN SPORTIVITAS MELALUI SEPAKBOLA"
Posting Komentar