MANAJERIAL ORGANISASI OLAHRAGA (STUDY KASUS: PERMASALAHAN
BAB I
PENDAHULUAN
Kemampuan manusia baik dari segi fisik, pengetahuan, waktu, dan
perhatian itu sangat terbatas. Terbatasnya kemampuan manusia dalam
melakukan pekerjaan mengharuskan manusia untuk membagi pekerjaan, tugas,
dan tanggungjawab. Dengan adanya pembagian kerja, tugas, dan
tanggungjawab, maka terbentuklah suatu kerjasama dan keterikatan formil
dalam suatu organisasi. Pengembangan olahraga prestasi memerlukan
keterlibatan semua pihak, mulai dari atlet, pelatih, organisasi
olahraga, Pemerintah Daerah serta unsur-unsur lainnya. Organisasi
olahraga memegang posisi strategis dalam mengembangkan prestasi olahraga
melalui program kerja yang disusun dengan perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi selama periode tertentu. Peran organisasi olahraga atau
Pengurus organisasi olahraga sangat penting, karena program kerja yang
disusun akan mempengaruhi prestasi yang dicapai oleh atlet dan pelatih.
Untuk meraih prestasi tertinggi tidak hanya atlet dan pelatih saja yang
berperan, akan tetapi peran pengurus cabang olahraga karena dalam
meraih prestasi tidak begitu saja diperoleh, tetapi dengan rencana yang
tersusun, terarah dan berkesinambungan, gizi yang baik, sarana dan
prasarana latihan yang memadai didukung IPTEK Olahraga yang mumpuni,
semua itu dipersiapkan oleh pengurus cabang olahraga dalam suatu
rangkaian yaitu program kerja cabang olahraga.
Salah satu tolok ukur keberhasilan sebuah organisasi olahraga prestasi
adalah dengan melihat seberapa tinggi prestasi olahragawan yang
dihasilkan oleh organisasi tersebut. Dengan kata lain organisasi
olahraga prestasi yang manajerialnya baik dapat diharapkan akan
menghasilkan prestasi yang baik pula. Sebuah organisasi olahraga dengan
manajerial yang baik apabila dapat menjalankan fungsi-fungsi manajemen
dengan baik. Aadapun fungsi-fungsi manajemen tersebut antara lain:
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Manajemen
Manajemen adalah proses bekerjasama dengan individu atau kelompok
untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Lebih lanjut dijelaskan
manajemen adalah suatu proses yang terdiri atas tindakan-tindakan yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang
dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya (Terry dalam Hasibuan 2005: 3). Dasar manajemen agar sempurna
menurut Terry harus memperhatikan People, Ideas, Resources, and
Objectives (PIRO). Sedang menurut Hasibuan (2005: 3) manajemen adalah
ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
tertentu. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
manajemen pada organisasi olahraga adalah suatu tindakan yang dilakukan
oleh pimpinan yang berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, pengontrolan, dan penganggaran untuk mencapai sasaran yang
telah ditetapkan.
1. Fungsi-fungsi Manajemen
Banyak pendapat para ahli tentang fungsi-fungsi manajemen sebagai
tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Fungsi-fungsi manajemen menurut
para ahli berbeda tetapi hampir sama. Hal tersebut disebabkan latar
belakang dan pendekatan yang dilakukan tidak sama. Beberapa ahli
manajemen mengemukakan berbagai pendapat yang hampir sama tentang
fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut: Menurut Siagian (Hasibuan,
2005: 17) menyebutkan ada 5 fungsi manajemen yaitu: Planning,
Organizing, Motivating, Controlling, dan Evaluating. Henry Fayol
(Hasibuan, 2005: 17) juga menyebutkan 5 fungsi manajemen yang sedikit
berbeda yaitu: Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, dan
Controlling. Millet (Harsuki, 2012: 78-79) juga menyatakan ada 5 fungsi
manajemen yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pengadaan staf,
pemberian bimbingan, dan pengawasan. Terry (Harsuki, 2012: 79) hanya
menyebut ada 4 fungsi manajemen yaitu: Planning, Organizing, Actuating,
and Controlling. Dari berbagai pendapat tersebut, pada penelitian ini
variabel-variabel fungsi manajemen yang akan digunakan adalah: POAC
(Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). Adapun pengertian
masing-masing fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Planning (Perencanaan)
Perencanaan adalah fungsi dari seorang manajer yang berhubungan dengan
memilih tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur
dan program-program dari alternatif-alternatif yang ada (Koontz &
O’Donnel dalam Hasibuan, 2005: 20). Lebih lanjut Hasibuan (2005: 20)
menyatakan perencanaan adalah proses penentuan tujuan dan
pedoman-pedoman pelaksanaan, dengan memilih yang terbaik dari
alternatif-alternatif yang ada. Dari berbagai pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa bahwa perencanaan adalah kegiatan perencanaan yang
sangat sederhana sampai perumusan yang lebih rumit. Perencanaan yang
sederhana misalnya penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu
hasil yang diinginkan.
Perencanaan yang efektif didasarkan pada fakta dan informasi, bukan
atas dasar emosi atau keinginan. Fakta-fakta yang relevan dengan situasi
yang sedang dihadapi berhubungan erat dengan pengalaman dan pengetahuan
seorang manajer.
1) Jenis-jenis perencanaan
a) Perencanaan fisik (physical planning). Perencanaan tersebut meliputi
perencanaan yang sifatnya fisik, seperti perencanaan perencanaan
bangunan, stadion, jalan dan sebagainya.
b) Perencanaan Fungsional (functional planning). Perencanaan ini
berhubungan dengan perecanaan yang sifatnya fungsionil, seperti
perencanaan keuangan, perencanaan pegawai/staf, perencanaan
publikasi/penjualan tiket pertandingan.
c) Perencanaan Komprehensif (comprehensive planning). Perencanaan ini
merupakan gabungan antara perencanaan fisik dan perencanaan fungsionil.
d) Perencanaan kombinasi umum (general combination planning).
Perencanaan ini meliputi perencanaan fisik, fungsional, dan perencanaan
komprehensif yang sekaligus digabungkan.
2) Keuntungan-keuntungan dari perencanaan
Pertanyaan-pertanyaan pokok terhadap Planning dapat disingkat dengan
5W+1H (What, When, Why, Who, Where + How). Adapun keuntungan-keuntungan
dari perencanaan menurut G. R. Terry dalam Anam (2008) yaitu:
a) Pertama-tama perencanaan menyebabkan bahwa kegiatan-kegiatan
dilakukan secara teratur dan bertujuan (Planning makes for the
utilization of purposeful and orderly activities).
b) Perencanaan meminimalisir tindakan-tindakan yang tidak produktif (Unproductive promotes the use of a measure of performance).
c) Perencanaan membantu penggunaan suatu alat pengukur hasil kerja (Planning promotes the use of a measure of performance).
3) Kekurangan atau keterbatasan perencanaan
a) Informasi atau fakta-fakta yang dibutuhkan untuk meramalkan masa yang
akan datang, belum tentu tepat, sehingga manajer tidak akan dapat
secara pasti meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan
datang.
b) Biaya yang diperlukan untuk menyusun suatu perencanaan yang lengkap
sangat besar, bahkan dapat melampaui hasil yang akan dicapai.
c) Secara psikologis orang-orang itu lebih suka memperhatikan masa
sekarang daripada masa yang akan datang, mengingat planning berhubungan
dengan masa yang akan datang.
b. Organizing (Pengorganisasian)
Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan
kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja
sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi
dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan
tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu (Terry dalam
Hasibuan, 2005: 21). Lebih lanjut Hasibuan (2005: 20) menyatakan
pengorganisasian adalah sesuatu proses penentuan, pengelompokkan dan
pengaturan macam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan,
menempatkan orang-orang pada aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang
diperlukan, menetapkan wewenang secara relatif didelegasikan kepada
setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Oleh
karena itu pengorganisasian dapat dirumuskan sebagai aktivitas manajemen
dalam pengelompokan orang-orang untuk menetapkan tugas, fungsi,
wewenang, serta tanggungjawab masing-masing yang berdaya guna dan
berhasil guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
1) Prinsip-prinsip organisasi menurut Harold Koontz dalam Anam (2008)
a) Principle of Unity of Objective (prinsip kesatuan tujuan). Dalam
organisasi harus ada kesatuan tujuan, organisasi itu akan kacau apabila
tidak ada kesatuan tujuan. Kesatuan tujuan itu harus merata dari atas
sampai ke bawah.
b) Prinsiple of efficiency (prinsip efisiensi). Suatu organisasi dalam
mencapai tujuannya harus dapat menggunakan biaya yang sekecil-kecilnya
dengan pengorbanan yang sedikit-dikitnya.
c) Span of management Prinsiple (Prinsip rentangan manajemen). Seseorang
terbatas di dalam mengurus orang lain, atau memimpin bawahannya.
Batas-batas tersebut tidak tetap bagi setiap orang tegantung kepada
kekomplekan hubungan antara atasan dan bawahan dan kepada kemampuan
manajer.
c. Actuating (Penggerakan)
Penggerakan adalah keseluruhan usaha, cara teknik, dan metode untuk
mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan
sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien,
efektif, dan ekonomis (Siagian, 1992: 128). Pada penggerakan menurut
Siagian termasuk fungsi-fungsi Commanding, Directing, Actuating, dan
Motivating. Istilah commanding adalah cara menggerakkan bawahan dengan
perintah komando, sedangkan directing mempunyai makna pemberian petunjuk
atau pengarahan yang harus ditempuh oleh pelaksana operasional. Adapun
motivating, yaitu dorongan berupa pemberian inspirasi dan semangat agar
semuanya dilakukan dengan suka rela dan sadar.
Faktor-faktor yang diperlukan dalam penggerakan diantaranya: (1)
Kepemimpinan (leadership); (2) Sikap dan Moril (attitude and morale);
(3) Tatahubungan (Communication); (4) Perangsang (Incentive); (5)
Supervisi (supervision); dan (6) Disiplin (Discipline).
1) Kepemimpinan (Leadership)
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar
berusaha dengan ikhlas untuk mencapai tujuan bersama. Seorang manajer
yang tidak memiliki kepemimpinan tidak akan mampu untuk mempengaruhi
bawahannya untuk bekerja, sehingga manajer yang demikian akan gagal
dalam usahanya. Sifat-sifat kepemimpinan menurut Harold Koontz dalam
Anam (2008) adalah sebagai berikut: (a) Memiliki kecerdasan orang-orang
yang dipimpin; (b) Mempunyai perhatian terhadap kepentingan yang
menyeluruh; (c) Memiliki kelancaran dalam berbicara; (d) Matang dalam
berpikir dan emosi; (e) Memiliki dorongan yang kuat dari dalam untuk
memimpin; (f) Memahami/menghayati kepentingan kerja sama.
2) Sikap dan Moral
Sikap ialah suatu cara memandang hidup, suatu cara berpikir,
berperasaan dan bertindak. Oleh karena itu sikap manajer akan
berbeda-beda sesuai dengan pola hidupnya. Beberapa sikap manajer yaitu:
a) Sikap feodal (feudal attitude)
Manajer yang mempunyai sikap cara berpikir, berperasaan dan bertindak
sesuai dengan pola-pola kehidupan feodalisme, yaitu suka terikat oleh
aturan-aturan tertentu yang telah teradat dan selalu ingin penghormatan
yang serba lebih.
b) Sikap Kediktatoran (dictatorial attitude).
Manajer yang bersikap kediktatoran akan berpikir berperasaan dan
bertindak sebagai diktator yang mempunyai kekuasaan mutlak, sehingga
bawahan, pekerja akan menjadi sasaran daripada kekuasaannya.
2) Tatahubungan (Communication)
Komunikasi membantu perencanaan manajerial dilaksanakan dengan
efektif, pengorganisasian manajerial dilakukan dengan efektif,
penggerakan manajerial diikuti dengan efektif dan pengawasan diterapkan
dengan efektif. Dalam melakukan komunikasi dalam manajemen ada beberapa
macam antara lain:
a) Komunikasi intern yaitu komunikasi yang dilakukan dalam organisasi
itu sendiri baik antara atasan dengan atasan atau bawahan dengan bawahan
atau antara atasan dengan bawahan atau sebaliknya.
b) Komunikasi ekstern yaitu komunikasi yang dilakukan keluar organisasi.
c) Komunikasi horizontal yaitu komunikasi yang dilakukan baik intern maupun ekstern antar jabatan yang sama.
d) Komunikasi vertikal yaitu komunikasi yang dilakukan dalam intern
organisasi antara atasan dan bawahan atau sebaliknya dalam suasana
formil.
3) Perangsang (Incentive)
Insentif ialah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan seseorang bertindak.
4) Supervisi (Supervision)
Menurut Terry dalam Anam (2008) supervsi ialah kegiatan pengurusan
dalam tingkatan organisasi dimana anggota manajemen dan bukan anggota
manajemen saling berhubungan secara langsung. Dengan demkian tugas
supervisor cukup berat karena ia harus dapat menemukan
kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya, serta memberi petunjuk untuk
menyelesaikan sesuatu pekerjaan dan memberi nasehat-nasehat kepada
pegawai yang mengalami kesulitan.
5) Disiplin (Discipline)
Disiplin ialah latihan pikiran, perasaan, kehendak dan watak untuk
melahirkan ketaatan dan tingkah laku yang teratur. Jenis disiplin ada
dua: (1) Self Imposed discipline (disiplin yang timbul dengan
sendirinya). (2). Command Discipline (Disiplin berdasarkan perintah).
d. Controlling (Pengawasan)
Pengawasan berarti mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan,
maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu menetapkan
tindakan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan
rencana. Prinsip pengawasan efektif adalah membantu usaha-usaha kita
untuk mengatur pekerjaan yang direncanakan untuk memastikan bahwa
pelaksanaan pekerjaan tersebut berlangsung sesuai rencana. Siagian
(1992: 169) menyatakan bahwa pengawasan merupakan proses pengamatan dari
seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan
yang sedang dilakukan sesuai dengan yang ditentukan sebelumnya. Apabila
fungsi-fungsi fundamental manajemen lainnya (planning, organizing, dan
actuating) dilaksanakan secara sempurna, maka tidak banyak diperlukan
pengawasan. Namun pada kenyataannya hal tersebut jarang sekali terjadi.
1) Maksud dan Tujuan Pengawasan
a) Untuk mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak.
b) Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan
mengusahakan pencegahan agar supaya tidak terulang kembali kesalahan
yang sama atau timbulnya kesalahan-kesalahan yang baru.
c) Untuk mengetahui apakah pelaksanaan biaya sesuai dengan program
(fase/tingkat pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam planning
atau tidak.
d) Untuk mengetahui apakah pelaksanaan kerja sesuai dengan prosedur dan kebijaksanaan yang telah ditentukan.
B. Definisi Organisasi
Pengorganisasian merupakan keseluruhan proses pengelompokan
orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tangungjawab-tanggungjawab, dan
wewenang sedemikian rupa, sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditentukan (Siagian dalam Harsuki, 2012: 103). Pengorganisasian
berarti mempersatukan sumber-sumber daya pokok dengan cara yang teratur
dan mengatur orang-orang dalam pola sedemikian rupa, hingga mereka dapat
melaksanakan aktivitas-aktivitas guna mencapai tujuan yang telah
ditentukan (Harsuki, 2012: 105). Sementara Jones (Harsuki, 2012: 106)
memberikan definisi bahwa organisasi adalah suatu alat yang dipergunakan
oleh orang-orang untuk mengkoordinasikan kegiatannya untuk mencapai
sesuatu yang mereka inginkan atau nilai, yaitu untuk mencapai tujuannya.
Lebih lanjut menurut Atmosudiro (Hasibuan, 2005: 26) organisasi adalah
struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara
sekelompok pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk
bersama-sama mencapai suatu tujuan tertentu. Berdasarkan beberapa
pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa organisasi merupak alat atau
wadah tempat manajer melakukan kegiatan-kegiatan dalam usaha mencapai
tujuan.
1. Unsur-unsur organisasi
Organisasi sebagai wahana untuk mencapai tujuan berdasarkan perencanaan
yang telah ditetapkan. Dengan terdapat beberapa unsur yang harus ada di
dalamnya. Unsur-unsur organisasi menurut Hasibuan (2005: 27) sebagai
berikut: (1) manusia (human factor), artinya ada unsur manusia yang
bekerjasama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin; (2) tempat kedudukan,
artinya mempunyai tempat kedudukannya; (3) tujuan, artinya ada tujuan
yang ingin dicapai; (4) pekerjaan, artinya ada pekerjaan yang akan
dikerjakan serta adanya pembagian kerja; (5) struktur, artinya terdapat
hubungan dan kerjasama antara manusia yang satu dengan yang lainnya; (6)
teknologi, terdapat unusr teknis; dan (7) lingkungan (environment
external social system), artinya terdapat lingkungan yang saling
mempengaruhi misalnya ada sistem kerjasama sosial.
2. Ciri-ciri organisai yang baik
Organisasi yang baik dapat dilihat dari keberhasilan dalam melaksanakan
fungsi-fungsi manajemennya. Adapun yang dimaksud dengan organisasi yang
baik adalah organisasi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Terdapat tujuan yang jelas.
b. Tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap orang di dalam organisasi.
c. Tujuan organisasi harus diterima oleh setiap orang dalam organisasi.
d. Adanya kesatuan arah.
e. Adanya kesatuan perintah.
f. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang.
g. Adanya pembagian tugas.
h. Struktur organisasi harus disusun sesederhana mungkin.
i. Pola dasar organisasi harus relatif permanen.
j. Adanya jaminan jabatan.
k. Balas jasa yang diberikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan.
l. Penempatan orang harus sesuai dengan keahliannya.
(Siagian dalam Harsuki, 2012: 119-120)
Lebih lanjut Prabukusumo (1994: 4-5) berpendapat organisasi dikatakan
baik apabila memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
a. Ada kantor sekretariat
Kantor sekretariat sangat penting bagi organisasi karena kantor
sekretariat sebagai: (1) Tempat berkumpul; (2) Mengadakan rapat
pertemuan; (3) Merencanakan aktivitas organisasi; dan (4) Menyimpan
arsip/data.
b. Ada papan nama organisasi/baju seragam/kartu anggota
Hal ini berkaitan erat dengan rasa kebanggaan terhadap organisasi yang
diikuti, sehingga rasa kebersamaan antar anggota untuk mengadakan
aktivitas akan lebih tinggi.
c. Kaderisasi atau Pergantian pengurus (antar waktu)
Pergantian pengurus antar waktu sangat dimungkinkan bila salah satu
atau dua pengurus tidak aktif karena alasan: (1) Kesibukan; (2) Pindah
kerja; dan (3) Pindah kota/desa. Pergantian antar waktu mutlak harus
dilaksanakan agar tidak terjadi aktivitas yang tumpang tindih, misalnya:
seorang ketua merangkap sekretaris karena sekretarisnya pindah kota.
Jadi jumlah pengurus yang aktif harus tetap lengkap, agar masing-masing
pengurus bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan tugas dan kewajibannya
masing-masing. Setiap kegiatan harus bergantian kepanitiaannya sehingga
masing-masing pengurus pernah mengalami sebagai “orang pertama” yaitu
sebagai ketua panitia penyelenggara.
C. Permasalahan Manajerial Pengcab PSSI Klaten
Berdasarkan Pedoman Dasar PSSI Tahun 2004, pengurus klub peserikatan
diubah menjadi Pengurus Cabang PSSI (Pengcab PSSI). Hal tersebut menjadi
tolakan penting dalam sejarah persepakbolaan di Kabupaten Klaten,
pengurus hasil muscab tahun 2005 bukan lagi pengurus klub perserikatan
PSIK Klaten, akan tetapi merupakan kepengurusan Pengcab PSSI Klaten
(Joglo Pos, 2005: 13). Akan tetapi dalam pelaksanaannya kepengurusan
Pengcab PSSI Klaten periode 2005-2010 dapat dikatakan gagal. Hal
tersebut dapat dilihat dari torehan rangkaian prestasi tim sepakbola
maupun futsal kabupaten Klaten pada berbagai ajang sebagai berikut:
Tabel 1. Prestasi Tim Sepakbola dan Futsal Kabupaten Klaten
No. Kejuaraan/Even Tahun Tempat Hasil/Prestasi
1. Liga Remaja/Piala Suratin 2005-2007 Surakarta Penyisihan
2. POPDA tingkat SMA 2005-2007 Surakarta Penyisihan
3. Kejurda Futsal Jateng 2008 Semarang Perempatfinal
4. Kompetisi Divisi 3 PSSI Zona Jawa 2008 Nganjuk Tidak Lolos
5. Sepakbola Pra-PORPROV 2009 2008 Semarang Lolos
6. Sepakbola PORPROV 2009 Solo Penyisihan
7. Futsal PORPROV 2009 Solo Perempatfinal
8. Kejurda Futsal Jateng 2010 Semarang Perempatfinal
9. Kejurda Futsal Jateng 2011 Tegal Juara 3
Selain torehan prestasi tim sepakbola dan futsal kabupaten Klaten
yang mengecewakan tersebut, kegagalan manajemen juga terlihat dari
mandeg-nya kompetisi antar klub anggota di bawah Pengcab PSSI Klaten.
Kompetisi antar klub anggota terakhir kali diadakan pada tahun 2007
dengan PS Wijaya sebagai juara divisi utama Pengcab PSSI Klaten.
Kenyataan yang terjadi berbanding terbalik dengan Sumber Daya Manusia
pemain atau atlet-atlet sepakbola dari Kabupaten Klaten justru berhasil
meraih prestasi yang membanggakan. Salah satu pemain dari Klaten yang
dapat meraih prestasi adalah Fachrudin yang ikut serta membela timnas
Indonesia pada ajang Piala AFF 2012 di Malaysia. Selain Fachrudin,
terdapat beberapa pemain dari Kabupaten Klaten yang menjadi pemain
profesional di liga Indonesia, antara lain: Agung Andri, Ade Christian,
Andrid Wibawa, Basten Tri Pamungkas yang membela PSS Sleman pada
kompetisi divisi utama PSSI tahun 2012 lalu.
Penyebab kegagalan-kegagalan tersebut adalah lemahnya tata kelola atau
manajemen organisasi Pengcab PSSI Klaten. Beberapa kelemahan manajemen
Pengcab PSSI Klaten, antara lain: (1) tidak mempunyai kantor sekretariat
sendiri; (2) banyak pengurus yang tidak aktif; (3) tidak adanya
kompetisi antar klub anggota; (4) tidak adanya perencanaan program kerja
yang jelas dan terarah; (5) tidak adanya kaderisasi.
Berbagai permasalahan di atas secara lengkap akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Tidak adanya kantor sekretariat
Menurut pedoman dasar PSSI tahun 2004, Pasal 5 tentang syarat-syarat
keanggotaan PSSI, disebutkan bahwa salah satu syarat keanggotaan PSSI
adalah berkedudukan dan berkantor di kabupaten/kota tempat domisilinya.
Hal tersebut menjelaskan bahwa anggota PSSI harus memiliki kantor
sekretariat. Menurut Prabukusumo (1994: 4) kantor sekretariat sangat
penting bagi organisasi karena kantor sekretariat sebagai: (1) Tempat
berkumpul; (2) Mengadakan rapat pertemuan; (3) Merencanakan aktivitas
organisasi; dan (4) Menyimpan arsip/data.
Kenyataan yang terjadi di Pengcab PSSI Klaten adalah tidak adanya
kantor sekretariat Pengcab PSSI Klaten. Selama ini seluruh arsip/data
disimpan di salah satu rumah pengurus dan untuk kegiatan rapat terkadang
diadakan di salah satu rumah pengurus, meminjam kantor KONI Kab. Klaten
dan yang sangat memprihatinkan rapat dilaksanakan di sebuah warung
lesehan di terminal Klaten.
Guna meningkatkan kinerja dan kemudahan dalam administrasi maka Pengcab
PSSI Klaten harus segera mempunyai kantor sendiri. Hal ini akan
memudahkan untuk keperluan rapat dan koordinasi. Salah satu alternatif
lain adalah dengan meminjam kantor KONI Kab. Klaten, tetapi Pengcab PSSI
Klaten harus memiliki loker sendiri sebagai tempat penyimpanan arsip.
2. Pengurus tidak aktif
Jajaran pengurus Pengcab PSSI Klaten diisi oleh orang-orang politik dan
beberapa mantan pemain sepakbola Kab. Klaten. Tetapi kenyataannya hanya
beberapa pengurus saja yang aktif. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Mursidi, “Selama ini pengurus yang aktif bergerak adalah hanya saya dan
Drs. Dwi Purwanto (Ketua Bidang Teknis), hal ini menjadikan kepengurusan
yang ada terkesan tidak aktif” (Joglo Pos, 2005: 13).
Solusi dari permasalahan ini adalah dengan mengganti pengurus yang
kiranya sudah tidak dapat aktif lagi dikarenakan kesibukkan dengan
pekerjaan. Pengurus yang baru diharapkan dari orang-orang yang
benar-benar peduli terhadap kemajuan sepakbola Klaten.
3. Tidak ada kompetisi antar klub anggota
Kompetisi antarklub anggota Pengcab PSSI Klaten awalnya berjalan dengan
baik sampai pada tahun 2007. Pada saat itu kompetisi dibagi menjadi 3
divisi, yaitu: divisi utama, divisi satu, dan divisi dua. Masing-masing
daerah kecamatan memiliki klub kebanggaan, sehingga pada waktu itu
sepakbola bagaikan sebuah hiburan tersendiri bagi warga Kab. Klaten.
Akan tetapi sejak tahun 2008 kompetisi sudah tidak digulirkan lagi oleh
pengurus dan tidak ada lagi rapat yang diikuti oleh klub anggota. Alasan
yang diberikan pengurus saat itu sedang fokus untuk membentuk tim
sepakbola yang ditargetkan dapat menembus ajang PORPROV 2009.
Semenjak kompetisi berhenti, geliat persepakbolaan Klaten diramaikan
dengan turnamen antar kampung (tarkam). Tarkam menjadi hiburan yang
menarik bagi masyarakat pencinta sepakbola, karena sering klub-klub
peserta memakai pemain-pemain profesional yang berlaga di Liga Indonesia
antara lain: Seto Nurdiyantoro, Fajar Listiyantoro, Anang Hadi, dan
almarhum Diego Mendieta. Hal ini menyebabkan ruang bagi pemain muda
untuk berkompetisi menjadi sempit karena setiap klub sudah diisi dengan
pemain yang berpengalaman dari berbagai daerah.
Solusi dari permasalahan ini adalah hidupkan lagi kompetisi, baik untuk
senior maupun pemain muda. Mengingat bahwa kompetisi adalah jantungnya
pembinaan, maka pemain muda harus diberi ruang yang lebih banyak
dibandingkan pemain senior.
4. Tidak adanya perencanaan program kerja yang jelas dan terarah
Dalam menentukan target atau tujuan yang akan dicapai, harus disusun
rencana strategis. Rencana strategis tersebut berupa langkah-langkah
yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Kenyataan yang terjadi di
Kab. Klaten, tidak ada perencanaan yang matang. Hal ini ditunjukkan dari
pembentukkan tim guna menghadapi sebuah even diselenggarakan dengan
mendadak dengan jarak yang sangat dekat dengan hari pelaksanaan even.
Hal tersebut mengakibatkan persiapan tim tidak optimal.
Solusi dari permasalahan ini adalah pembuatan program kerja yang
berkelanjutan dari pengurus. Diharapkan pengurus aktif dalam mencari
info pelaksanaan sebuah even, hal tersbut dapat digunakan sebagai
pedoman dalam mempersiapkan sebuah tim.
5. Tidak adanya kaderisasi
Berdasarkan Pedoman dasar PSSI, disebutkan bahwa Pengurus Cabang adalah
badan/institusi kepemimpinan di tingkat kabupaten/kota dengan masa
jabatan 5 (lima) tahun. Pergantian pengurus antar waktu sangat
dimungkinkan apabila salah satu dari pengurus tidak dapat aktif yang
dapat memungkinkan terjadinya tumpang tindih jabatan/peran (Prabukusumo,
1994: 5).
Kenyataan yang terjadi di Kab. Klaten pengurus yang duduk di jajaran
kepengurusan Pencab PSSI Klaten diisi oleh orang-orang tertentu saja,
padahal selama kepengurusan selama ini belum mampu menghasilkan prestasi
yang layak dibanggakan oleh warga Kab. Klaten. Bahkan sampai di tahun
2012 ini, kepengurusan Pengcab PSSI Kab. Klaten belum mengadakan Muscab
sekaligus laporan pertanggunjawaban kepengurusan periode 2005-2010.
Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan segera diadakan
musyawarab cabang luar biasa. Hal tersebut untuk mengakomodasi laporan
pertanggungjawaban pengurus lama dan segera membentuk pengurus yang
baru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum manajemen
adalah proses pencapaian tujuan melalui dan bersama orang lain. Agar
pencapaian tujuan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, perlu ada
koordinasi dari semua orang yang ada di dalamnya. Mengenai fungsi-fungsi
fundamental manajemen, tampaknya hampir seluruh ahli sepakat intinya
ada empat, yaitu planning, organizing, actuating dan controlling.
Berdasarkan kasus di Pengcab PSSI Klaten fungsi manajemen tidak berjalan
dengan baik, sehingga berdampak terhadap prestasi. Beberapa
permasalahan yang terjadi di Pengcab PSSI Klaten adalah: (1) tidak
mempunyai kantor sekretariat sendiri; (2) banyak pengurus yang tidak
aktif; (3) tidak adanya kompetisi antar klub anggota; (4) tidak adanya
perencanaan program kerja yang jelas dan terarah; (5) tidak adanya
kaderisasi.
B. Saran
Permasalahan prestasi sepakbola di Kab. Klaten disebabkan karena
Kepengurusan Pengcab PSSI Klaten tidak mampu menjalankan peran sesuai
dengan fungsi-fungsi manajemen dengan baik, bahkan kepengurusan periode
2005-2010 belum melakukan laporan pertanggungjawaban dan juga belum
diadakan pergantian pengurus baru. Berdasarkan dari permasalahan yang
terjadi maka solusi yang dapat dilakukan adalah: (1) harus segera
mempunyai kantor sendiri; (2) mengganti pengurus yang sudah tidak aktif;
(3) menyelenggarakan lagi kompetisi; (4) program kerja yang terencana
dan berkelanjutan; dan (5) diadakan Muscablub guna mengakomodasi laporan
pertanggungjawaban pengurus lama dan pembentukan pengurus baru.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya. (18 Maret 2005). Muscab PSIK tolakan penting persepakbolaan Klaten. Joglo Pos. p. 13.
Harsuki. (2012). Pengantar manajemen olahraga. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Hasibuan M.S.P. (2005). Organisasi dan motivasi (dasar peningkatan produkstivitas). Jakarta: Bumi Aksara.

Belum ada tanggapan untuk "MANAJERIAL ORGANISASI OLAHRAGA (STUDY KASUS: PERMASALAHAN "
Posting Komentar